Malaysia Online Gambling Company_Baccarat platform_European online betting

  • 时间:
  • 浏览:0
  • 来源:Platform judi online

Sbbet365 abet365 alternate URLlternate URLet365 alternate URLaya bingung harus tertawa atau terharu dengan percakapan itu. Bagaibet365 alternate URLmana saya yang sudah hampir 30 tahun masih dianggap anak-anak oleh Ibu, adalah fakta yang lucu sekaligus mengharukan. Namun itu bukanlah momen satu-satunya. Beberapa hal ini juga saya alami, yang membuat saya yakin bahwa berapa pun usia anak, bagi orangtua, kita tetaplah anak-anak.

Dulu ketika masih kecil, orangtua selalu mengarahkan kita untuk begini dan begitu. Kadang kita juga harus melakukan ini dan itu yang sebenarnya nggak kita suka. Hal itu karena kita dianggap belum bisa memutuskan sendiri. Di usia dewasa, orangtua juga masih sering “ikut campur” atas pilihan sang anak. Contoh paling gampangnya adalah mendesak agar ikut seleksi CPNS meski sang anak nggak berminat. Mereka tahu bahwa kita sudah cukup dewasa untuk memutuskan sendiri, namun tetap saja mereka khawatir kamu salah melangkah.

Ada sebuah kisah lucu antara saya dan Ibu ketika menentukan besaran uang yang pantas untuk ngamplop saat kondangan teman. Saat itu posisinya saya sudah lama tinggal di ibukota, jadi saya tidak tahu berapa angka yang layak untuk “ngamplop” di kampung halaman. Karenanya, saya putuskan untuk konsultasi kepada Ibu. Lantas, Ibu menyebutkan sebuah nominal yang tidak terlalu besar, dengan tambahan pecakapan sebagai berikut:

Pernah tidak sih kamu mencari sesuatu sampai pusing tapi nggak ketemu? Padahal kamu merasa menaruhnya di sini, di sini, atau mungkin di situ. Tapi entah ke mana barang yang kamu cari-cari itu. Lalu tak lama Ibu datang, dengan omelan Ibu membantumu mencari, dan tak perlu waktu lama barang itu akhirnya ditemukan di tempat yang sebenarnya gampang dilihat. Lalu Ibu pun berkata “Lha ini ada! Gimana sih kamu nyarinya??”. Hmm, ini memang Ibu yang punya kemampuan super, atau saya yang nggak teliti mencari sih?

Pernah nggak sih merasa “nggak pernah benar” di hadapan orangtua? Bahkan untuk urusan sesepele merebus air, atau membilas cucian, terkadang yang saya lakukan masih salah. Harusnya begini dan begitu, seolah-olah saya masih anak-anak yang masih perlu diarahkan. Pengalaman hidup yang banyak membuat orangtua merasa lebih tahu bagaimana cara yang benar. Sedangkan saya mungkin berprinsip asal cepat toh hasilnya juga sama. Ibaratnya sih seperti mau jalan-jalan ke Roma, ada banyak cara untuk bisa sampai sana.

Gap generasi menciptakan banyak perbedaan antara saya dengan orangtua. Mulai dari cara pandang terhadap suatu masalah, sampai cara menangani masalah yang ada. Nggak bisa disangkal, hal ini terkadang menyebalkan dan membutuhkan kesabaran ekstra. Namun, saya juga tahu, terlepas dari segala perbedaan, terlepas dari perdebatan, orangtua akan selalu ada dan berusaha membantu ketika saya menghadapi masalah.

barang nggak akan ketemu kalau bukan Ibu yang mencari via www.rimma.co

Dulu saat masih anak-anak dan remaja, orangtua akan menelepon setiap jam saat saya masih di luar di atas jam 5 sore. Lalu Ayah atau Ibu akan menunggu di depan rumah sampai saya datang, tentunya siap dengan omelan panjang lebar. Menjadi ornag dewasa semestinya memberikan saya hak istimewa untuk bisa pulang malam tanpa diomeli. Tapi apakah hak istimewa ini berlaku bagi orangtua? Jelas saja nggak berlaku. Karena kalau sedang di rumah, masih kelayapan di atas jam 7 malam tetap saja akan diteleponi terus-terusan. Yah, setidaknya batas jam malamnya naik sedikit, ya.

Tentu saja tidak semua orangtua sama. Begitu juga tentang relasi anak dengan orangtuanya pasti berbeda-beda. Terkadang menghadapi orangtua juga membutuhkan kesabaran ekstra, sebab tak selamanya kami bisa berpikir di jalan yang sama. Namun, segala kecerewetannya, nasihat-nasihatnya yang terkadang tak bisa kita terapkan, ataupun larangan-larangan dan omelan yang membutuhkan kesabaran, menurut saya tak ada orangtua yang ingin anaknya celaka.

packing nggak pernah serapi Ibu (Photo by Craig Adderley) via www.pexels.com

Saya: “Kok dikit banget, Bu?”

Ibu: “Udah segitu aja. Kan masih kecil juga.”Saya: “Kecil? Bu, aku udah mau 30 tahun lho.”Ibu: *terdiam sebentar* “Oh iya ya…”

orangtua tetap nungguin kamu pulang (Photo by Alex Boyd) via unsplash.com

Sama seperti kasus mencari barang, urusan packing barang bawaan sebelum bepergian ini juga sering membuat saya frustrasi. Jika saya yang packing, dijamin koper dan tas nggak akan muat. Akibatnya, saya harus nambah goodiebag, kantong plastik, dan segala macam tentengan. Tapi bila Ibu yang membantu packing, semua barang bisa masuk dengan sempurna tanpa harus nambah apa-apa. Nanti ketika tiba waktunya pulang dan harus packing ulang, saya pun kebingungan bagaimana membuat barang-barang itu muat seperti semula.