Football Handicap Analysis_Gaming Forum_888 Online Casino_Brazil Gaming_bet365 official website

  • 时间:
  • 浏览:0
  • 来源:Platform judi online

BBetting appiBetting Betting appappasanya pengidap Fomo ini tidaBetting appk sadar kalau dirinya sudah terjangkit. Memang sih, secara kasat mata dampak dari Fomo ini kurang tampak. Tapi kalau ditelaah lebih lanjut, orang dengan sindrom ini bisa kecanduan media sosial yang berpengaruh ke kondisi psikologisnya lho. Nah, Hipwee News & Feature sudah merangkum 4 hal yang bisa dipahami sebagai ciri-ciri orang dengan sindrom Fomo. Simak yuk, siapa tahu kamu salah satunya!

FOMO: Fear Of Missing Out

Sebenarnya kepo sendiri wajar dilakukan karena manusia memang punya dasar sifat penasaran. Tapi dengan catatan dilakukan dalam kadar sedang. Nah kalau sudah jadi kebiasaan sampai membuat ketergantungan, justru akan menimbulkan bahaya. Terlebih kalau yang dikepo adalah kehidupan orang lain. Selain bisa memupuk rasa iri, kepo juga menandakan orang tersebut sebenarnya tidak bahagia, selalu cemas, karena tak pernah berhenti membandingkan kehidupannya dengan orang lain.

Ya, kepo sebenarnya adalah singkatan dari Knowing Every Particular Object, yang artinya mengetahui setiap detail objek. Dalam hal ini segala informasi di dunia maya atau media sosial. Karena orang dengan sindrom Fomo memiliki ketakutan tertinggal informasi, salah satu yang pasti mereka lakukan adalah kepo.

Orang yang takut tertinggal informasi atau tren jelas bakal ‘lengket’ dengan sumbernya, dalam hal ini ponsel atau media sosial. Beberapa tandanya adalah mereka akan meletakkan ponsel di dekatnya ketika tidur, cemas saat baterai ponsel tinggal sedikit, dan selalu mengecek ponsel setiap menit. Ini karena akan muncul kekhawatiran atau bahkan perasaan bersalah jika mereka sebentar saja ‘absen’ dari dunia maya. Kalau kamu sudah termasuk dalam ciri ini, kamu patut waspada sih, karena itu artinya kesehatan mentalmu sudah terganggu.

Nah, jelas disini bahwa yang mereka butuhkan hanyalah pencitraan. Alasannya ya karena ketakutan untuk ‘tertinggal’ tadi. Ini erat kaitannya dengan istilah social climber. Para social climber ini kerap menggunakan segala cara supaya bisa diterima oleh orang-orang yang memiliki status sosial lebih tinggi dan nggak ragu-ragu meski harus bohong. Miris ‘kan