Vaksin「Indonesian Lottery」 Lengkap Bisa Kurangi Risiko Long Covid

  • 时间:
  • 浏览:0
  • 来源:Platform judi online

DapatkaIndonesian Lotteryn Indonesian Lotteryinformasi, inspirasi dan insight di email kamu.

Daftarkan email

KOMPAS.com - Vaksinasi lengkap dengan vaksin Covid-19 bisa mengurangi risiko Covid-19 Indonesian Lotteryyang berkepanjangan (long Covid-19).

Kita bisa akhiri pandemi Covid-19 jika kita bersatu melawannya. Sejarah membuktikan, vaksin beberapa kali telah menyelamatkan dunia dari pandemi.

Mari bantu tenaga kesehatan dan sesama kita yang terkena Covid-19. Klik di sini untuk donasi via Kitabisa.

Kita peduli, pandemi berakhir!

Para peneliti selanjutnya membandingkan gejala pengguna yang sudah divaksinasi dengan mereka yang tidak diberi vaksin.

Hasil ini didasarkan pada data yang dilaporkan sendiri melalui aplikasi Studi Gejala Covid-19 di Inggris Raya antara Desember 2020 dan Juli 2021.

Vaksinasi dapat mengurangi risiko Covid panjang dalam dua cara. Yang pertama adalah dengan mengurangi risiko terinfeksi Covid-19 sejak awal.

Data itu mencakup 1,2 juta orang dewasa yang sudah menerima dosis pertama vaksin.

Sebuah penelitian yang diterbitkan di The Lancet, sebagaimana dilansir dari laman Harvard Health Publishing pada Harvard Medical School, menunjukkan bahwa orang yang divaksinasi penuh yang mengalami infeksi terobosan sekitar 50 persen lebih kecil kemungkinannya untuk mengalami long Covid-19 daripada orang yang terinfeksi tanpa divaksinasi.

Vaksin adalah salah satu temuan berharga dunia sains. Jangan ragu dan jangan takut ikut vaksinasi. Cek update vaksinasi.

Tapi bagaimana dengan orang yang mengalami infeksi terobosan, terinfeksi meski sudah divaksinasi?

Long Covid-19 atau juga sindrom pasca-Covid-19 adalah istilah untuk gejala yang muncul atau bertahan lebih dari 28 hari setelah infeksi Covid-19 awal.

Sebanyak 0,5 persen atau 6.030 di antaranya dinyatakan positif Covid-19 setelah menerima dosis pertama.

Baca juga: Studi: Vaksin Penuh Dapat Mengurangi Gejala Long Covid-19

Data tersebut dianalisis oleh para peneliti dari Amerika Serikat dan Inggris. Mereka memeriksa gejala yang dilaporkan sendiri dari pengguna aplikasi yang sudah menerima vaksin Covid-19 antara 8 desember 2020 hingga 4 Juli 2021.